PENGELOLAAN LABORATORIUM
1.1
Pengertian
laboratorium
Laboratorium merupakan suatu tempat untuk melakukan
percobaan dan penyelidikan.
Tempat ini dapat berupa ruangan tertutup, kamar, atau ruangan
Laboratorium yang dimaksud dalam buku ini dimaknai
sebagai suatu tempat berupa bangunan yang dilengkapi sejumlah peralatan untuk
tempat bekerja. Untuk lebih jelasnya berikut ini diuraikan beberapa pengertian
laboratorium.
Kata laboratorium berasal dari laboratory yang
memiliki beberapa pengertian yaitu:
(1)
tempat yang dilengkapi peralatan untuk melangsungkan eksperimen di dalam
IPA
atau melakukan pengujian dan analisis, (2) bangunan atau ruangan yang
dilengkapi peralatan untuk melangsungkan penelitian ilmiah ataupun praktek
pembelajaran bidang IPA (3) tempat kerja untuk melangsungkan penelitian ilmiah
dan (4) ruang kerja seorang ilmuwan dan tempat menjalankan percobaan.
Berdasarkan definisi di atas dapat
dinyatakan bahwa laboratorium adalah suatu bangunan yang di dalamnya dilengkapi
dengan alat dan bahan untuk kepentingan pelaksanaan percobaan. Dalam arti yang
luas, laboratorium dapat diartikan sebagai keseluruhan alam semesta beserta
isinya yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar dan media bagi pebelajar.
Pengertian lain dari laboratorium
ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu.
Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka,
misalnya kebun dan lain-lain. Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium
adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan
yang berhubungan dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain,
yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun
dan lain-lain.
1.2
Fungsi Laboratorium
Laboratorium
mempunyai fungsi yang sangat banyak, baik di bidang penelitian umum,
pendidikan, dan lain-lain. Secara umum laboratorium berfungsi sebagai tempat
untuk menguatkan/memberi kepastian keterangan (informasi), menentukan hubungan
sebab-akibat (causalitas), membuktikan benar tidaknya faktor-faktor atau
fenomena-fenomena tertentu, membuat hukum atau dalil dari suatu fenomena
apabila sudah dibuktikan kebenarannya, mempraktekkan sesuatu yang diketahui,
mengembangkan keterampilan, memberikan latihan, menggunakan metode ilmiah dalam
memecahkan problem dan untuk melaksanakan penelitian perorangan (individual
research).
Menurut
Departemen Pendidikan Nasional (2006:15) fungsi dari pada ruangan Laboratorium
Sains/PA adalah sebagai tempat pembelajaran, tempat peragaan dan tempat praktik
Sains/ PA. Secara garis besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut :
a. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang
telah diterima sehingga antara teori dan praktek bukan merupakan dua hal yang
terpisah, melainkan dua hal yang merupakan suatu kesatuan. Keduanya saling
mengkaji dan saling mencari dasar.
b. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi.
c. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari
hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan
lingkungan sosial.
d. Menambah
keterampilan dalam mempergunakan alat media yang tersedia untuk mencari dan
menentukan kebenaran.
e. Memupuk rasa ingin tahu sebagai modal sikap ilmiah
seseorang calon ilmuwan.
f. Memupuk dan membina rasa percaya diri sebagai
keterampilan yang diperoleh, penemuan yang didapat dalam proses kegiatan kerja
di laboratorium.
Secara khusus
fungsi laboratorium sebagai pelaksanaan didaktik pendidikan dikategorikan ke
dalam tiga kelompok yaitu: (1) fungsi yang memberikan peningkatan pengetahuan,
(2) fungsi yang memberikan peningkatan keterampilan, dan (3) fungsi yang
memberikan penumbuhan sikap positif.
Fungsi
laboratorium yang berkaitan dengan pengetahuan (keterampilan intelektual)
diantaranya meningkatkan kemampuan-kemampuan berikut:
a. Pemahaman
Pemahaman yang
dapat diperoleh peserta didik dari fungsi didaktik diantaranya adalah
penggunaan alat, teknik pengukuran, faktor kesalahan pengukuran, prosedur
eksperimen, sumber kecelakaan eksperimen.
b. Merancang Percobaan
Kemampuan–kemampuan
yang dapat dilatihkan dalam merancang percobaan diantaranya adalah
mengidentifikasi informasi, mengemukakan hipotesis, merancang prosedur
percobaan, menentukan alat dan bahan, dan merancang pencatatan data c.
Melakukan Percobaan Kemampuan peserta didik dalam melakukan percobaan di
antaranya adalah mengidentifikasi data yang relevan dan tidak relevan,
klasifikasi data, mengolah data, menganalisis data, mengidentifikasi hubungan
sebab akibat, menghubungkan berbagai faktor atau fenomena, menginterpretasikan
data, dan menyimpulkan hasil percobaan.
Fungsi
laboratorium yang berkaitan dengan keterampilan fisik diantaranya
melatih dan meningkatkan keterampilan peserta didik
dalam hal mengenali : cara
kerja alat, keterbatasan kerja alat, kapasitas alat,
ketelitian alat, mengkalibrasi alat,
menyiapkan alat, merangkai alat, menggunakan alat,
memperbaiki alat, menyimpan alat, membersihkan alat, menangani keselamatan
kerja.
Fungsi laboratorium yang berkaitan dengan menumbuhkan sikap diantaranya : objektif, toleran / menerima pandangan orang lain, keingintahuan tinggi, cermat, teliti, kooperatif, partisipatif, kreatif, kritis, terbuka, tekun, mau bekerja keras, memiliki motif berprestasi, ulet (tidak mudah menyerah), percaya diri, memiliki kepedulian, menyadari kelemahan dan keunggulan diri, dan taat pada aturan.
Fungsi laboratorium yang berkaitan dengan menumbuhkan sikap diantaranya : objektif, toleran / menerima pandangan orang lain, keingintahuan tinggi, cermat, teliti, kooperatif, partisipatif, kreatif, kritis, terbuka, tekun, mau bekerja keras, memiliki motif berprestasi, ulet (tidak mudah menyerah), percaya diri, memiliki kepedulian, menyadari kelemahan dan keunggulan diri, dan taat pada aturan.
Pengembangan
sikap ilmiah yang ditekankan pada pembelajaran di laboratorium akan lebih
bermakna jika percobaan yang dikembangkan memiliki konteks keseharian siswa,
atau hal-hal yang mudah ditemui siswa di kehidupannya sehari-hari.
1.3
Desain Laboratorium
Bagaimanakah bentuk laboratorum yang ideal?
Berapa besarkah ukurannya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak serta merta dapat
kita dijawab, karena sebuah laboratium dibangun untuk tujuan tertentu. Artinya
sebelum laboratoium itu dibangun harus tahu dulu untuk keperluan apa dan untuk
dipakai siapa laboratorium tersebut. Misalnya laboratorium yang akan digunakan
untuk pembelajaran Biologi di Sekolah Menengah tentunya akan memiliki bentuk
yang berbeda dengan laboratorium untuk penelitian. Demikian pula, laboratorium
untuk penelitian atau percobaan fisiologi tumbuhan akan berbeda dengan
laboratorium untuk ekologi. Pada umumnya bentuk, ukuran dan tata ruang suatu
laboratorium didesain sedemikian rupa sehingga pemakai laboratorium mudah
melakukan aktivitasnya.
Disamping bentuk, ukuran laboratorium perlu
mendapat perhatian karena fungsi laboratorim di sekolah-sekolah tidak hanya
digunakan untuk percobaan yang bersifat individual. Umumnya laboratorium
digunakan untuk berbagai kegiatan
percobaan dalam konteks proses belajar mengajar. Jumlah siswa yang melebihi
kapasitas ruangan laboratorium dalam satu kali percobaan akan mengganggu kenyamanan
dan jalannya percobaan atau aktivitas lainnya.
Sebuah laboratorium dengan ukuran lantai
seluas 100 m2 dapat digunakan oleh sekitar 40 orang siswa, dengan
resiko setiap siswa menggunakan tempat seluas 2,5 m2 dari keseluruhan luas laboratorium.
Laboratorium untuk keperluan praktikum mahasiswa membutuhkan ukuran lebih luas
lagi, misalnya 3-4 m2 untuk setiap mahasiswanya. Desain laboratorium
dapat dibagi menjadi 2 tipe utama, yakni tipe klasikal dan kelompok. Untuk
jelasnya desain dari kedua tipe tersebut dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.
1.3.1
Jenis Laboratorium
Laboratorium dapat bermacam-macam
jenisnya tergantung jenjang
pendidikannya. Di sekolah menengah, umumnya jenis laboratorium disesuaikan
dengan mata pelajaran yang membutuhkan laboratorium tersebut, misalnya laboratorium
Biologi, laboratorium Fisika dan laboratorium Kimia, sedangkan di SLTP mungkin
hanya laboratorium IPA saja. Sebaliknya untuk Perguruan Tinggi, untuk satu
jurusan saja, mungkin terdapat banyal laboratorium, misalnya untuk jurusan
Biologi, kita mengenal laboratorium Botani, laboratorium Zoologi, laboratorium
Fisiologi, laboratorium Biokimia, laboratorium Mikrobiologi, laboratorium
Genetika, laboratorium Ekologi dan bahkan ada laboratorium yang lebih spesifik
lagi seperti laboratorium Kultur Jaringan.
Kadang-kadang atas pertimbangan efisiensi,
suatu ruangan laboratorium difungsikan juga sebagai ruangan kelas untuk proses
belajar mengajar IPA. Laboratorium ini dikenal sebagai Science Classroom-Laboratory. Kelebihan jenis laboratorium ini
bersifat multi guna.
1.3.2
Tata Letak Laboratorium
Bangunan laboratorium tidak sama dengan
bagunan kelas, sehingga perlu adanya pemahaman tentang tata letak (layout) bangunan laboratorium. Dalam
membangun laboratorium banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Faktor-faktor
itu antaranya lokasi bangunan laboratorium dan tata letak ruangan.
a. Lokasi
bangunan
Persyaratan lokasi pembangunan laboratorium
antara lain tidak terletak pada arah angin yang menuju bangunan lain atau
pemukiman. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyebaran gas-gas berbahaya.
Bangunan laboratorium tidak berdekatan atau dibangun pada lokasi sumber air.
Bangunan laboratorium harus mudah dijangkau untuk pengentrolan dan memudahkan
tindakan lainnya misalnya apabila terjadi kebakaran, mobil kebakaran harus
mampu menjangkau bangunan laboratorium.
b. Tata
letak ruangan
Selain persyaratan lokasi, perlu diperhatikan
pula tata letak ruangan. Ruangan laboratorium untuk pembelajaran sains umumnya
terdiri atas ruang utama dan ruang pelengkap. Ruang utama adalah ruangan tempat
siswa atau mahasiswa untuk melakukan praktikum atau penelitian. Ruang pelengkap
umumnya terdiri atas ruang persiapan dan ruang penyimpanan. Ruang persiapan
digunakan untuk menyiapkan alat-alat atau bahan-bahan yang akan dipakai
sedangkan ruang penyimpanan digunakan untuk menyimpan bahan-bahan persediaan
(termasuk bahan kimia) dan alat-alat yang penggunaannya tidak setiap saat.
Selain ruangan-ruangan tersebut, mungkin juga
laboratorium memiliki ruang gelap (dark
room), ruangan specimen, ruangan khusus untuk menyimpan bahan-bahan kimia
dan ruang administrasi/staf laboratorium. Hal ini didasarkan atas pertimbangan
keamanan berbagai perlatan laboratorium dan kenyamanan para pengguna
laboratorium.
Penyimpanan alat-alat di dalam gudang tidak
boleh disatukan dengan bahan kimia. Demikian pula penyimpanan alat-alat gelas
tidak boleh disatukan dengan alat-alat yang terbuat dari logam.
Ukuran ruang utama lebih besar daripada ukuran ruang
persiapan dan ruang penyimpanan. Contoh apabila luas lantai untuk sebuah
bangunan laboratorium 100 m2, 70-80 m2 digunakan untuk
ruang utama tempat praktikum. Ruang
penyimpanan harus dapat ditempati lemari yang akan digunakan untuk menyimpan
alat-alat dan bahan. Demikian juga untuk ruang persiapan, harus dapat ditempati
meja dan alat-alat untuk keperluan penyiapan bahan-bahan atau alat-alat
percobaan.
1.4
Fasilitas Laboratorium
Laboratorium yang baik harus dilengkapi
dengan berbagai fasilitas untuk
memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas laboratorium terdiri atas fasilitas
umum dan fasilitas khusus. Fasilitas umum
merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai laboratorium
contoh penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas. Sedangkan untuk fasilitas khusus,
diantaranya peralatan dan mebelair,contohnya meja, kursi, papan tulis, lemari
alat, lemari bahan, lemari asam, perlengakapan P3K dan pemadam kebakaran.
a. Air
Air merupakan fasilitas yang penting dalam
laboratorium sehingga pasokan air ke laboratorium harus cukup. Selain pasokan,
kualitasnya juga harus baik karena
kualitas air yang kurang baik dapat mempercepat kerusakan alat terutama
alat-alat yang terbuat dari logam. Aliran air yang masuk ke dalam laboratorium
harus lancer demikian juga yang keluar laboratorium
Air yang masuk dan keluar laboratorium biasanya
lewat pipa-pipa sehingga perlu diperhatikan pembuangan air sisa cucian yang
mengandung bahan-bahan yang dapat merusak pipa-pipa tersebut. Pembuangan sisa asam atau basa kuat atau bahan korosif
lainnya harus melalui pengenceran dahulu sebelum dibuang lewat pipa. Hal ini
untuk menghindari kerusakan pipa-pipa saluran air.
b. Penerangan
Ruangan laboratorium harus memiliki pengatur
penerangan yang dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan. Sumber cahaya ini dapat
berasal dari cahaya matahari atau dari listrik.
c. Ventilasi
Laboratorium membutuhkan ventilasi yang baik,
lebih-lebih untuk laboratorium Biologi yang sering menggunakan bahan-bahan
mudah menguap, kadang-kadang ventilasi tidak dapat dicukupi hanya dari jendela
saja, sehingga dibutuhkan alat perotasi udara seperti kipas penyedot yang dapat
membantu pergantian udara.
d. Listrik
Pada laboratoium biologi Listrik merupakan
fasilitas penting dalam laboratorium. Besarnya daya yang terpasang harus
mencukupi kebutuhan alat-alat laboratorium, terutama untuk alat-alat yang membutuhkan daya besar seperti oven, incubator, autoclave dan
lain-lain. Tegangan listrik harus selalu dicek apakah stabil atau tidak, karena
tegangan listrik yang tidak stabil dapat merusak alat-alat.
Harus
diperhatikan pula instalasi listrik, jangan didekatkan dengan aliran air dan
gas. Selain itu harus dilengkapi dengan pengaman yang mudah dijangkau dalam hal
ini terminal out let harus mudah
dijangkau. Instalasi listrik secara periodic
disikat untuk menghilangkan bahan-bahan korosif yang biasanya menempel
pada permukaan kabel. Socket dan plug harus diperiksa apakah masih
berfungsi dangan baik atau rusak (aus). Periksa juga secara periodic hubungan
kabel ke soket apakah masih terikat dengan kuat.
e. Bak
cuci
Bak cuci atau sinks dapat terbuat dari beton atau porselin. Bak cuci yang terbuat
dari porselin mudah ternoda apabila kena bahan-bahan kimia. Bak cuci harus
dilengkapi dengan saringan untuk mencegah masuknya sisa-sisa praktikum yang
berupa bahan padat. Untuk menghindari adanya kerusakan bak cuci, hindarkan
pembuangan bahan-bahan kimia seperti asam-basa kuat dan bahan-bahan korosif
lainnya.
f. Mebelair
Perlengkapan yang berupa mebelair harus
diperhatikan kualitas dan ukurannya. Misalnya untuk meja perlu diperhatikan
ketinggiannya. Umumnya meja siswa/mahasiswa ukuran tingginya 70-75 cm. Meja
guru/dosen atau meja demonstrasi harus lebih tinggi dari meja siswa, agar
sewaktu demonstrasi dapat terlihat sampai ke meja siswa paling belakang. Kursi
laboratorium apabila memungkinkan ketinggiannya dapat diatur sehingga dapat
menyesuaikan degan jenis kegiatan praktikum.
Meja samping yang biasa dipakai untuk menyimpan alat-alat yang menetap umumnya terbuat dari cor
beton. Namun demikian meja samping
tersebut dapat terbuat dari bahan kayu keras.
Bagian bawah meja samping dapat digunakan sekaligus sebagai lemari.
Ukuran meja samping panjangnya bervariasi sesuai kebutuhan, sedangkan lebarnya
antara 50 – 60 cm dan tingginya 70 – 75 cm. Demikian halnya meja untuk
timbangan harus rata dan tidak mudah bergetar atau goyang. Meja untuk timbangan
ini sangat cocok untuk dibuat dari cor beton atau dari bahan kayu keras yang
tebal.
Lemari alat dan bahan hendaknya memiliki
tahapan (shelve) yang dapat
diubah-ubah posisinya agar memudahkan dalam menata yang bervariasi ukurannya.
Adakalanya dibutuhkan suatu lemari khusus digunakan untuk menyimpan mikroskop
dan alat-alat optic lainnya. Lemari mikroskop dibuat dengan tahapan yang kokoh
dan datar yang dapat dibuat dari bahan logam atau kayu keras. Ukurannya disesuaikan
dengan kebutuhan atau jumlah mikroskop yang dimiliki. Hal yang perlu untuk
diperhatikan untuk lemari mikroskop tersebut adalah diusahakan tidak lembab
agar terhindar dari jamur.
g.
Personal
Agar kesinambungan daya guna laboratorium
dapat dipertahankan, laboratoratorium perlu dikelola secara baik. Salah satu
bagian dari pengelola lab ini adalah staf atau personal laboratorium. Staf atau
personal laboratorium mempunyai tanggunga jawab terhadap efektifitas dan
efisiensi laboratorium termasuk fasilitas, alat-alat dan bahan-bahan praktikum.
Pada sekolah menengah, biasanya laboratorium dikelola oleh seorang penanggung
jawab laboratorium yang diangkat dari salah seorang guru IPA (fisika, kimia
atau biologi).
Di Perguruan Tinggi yang bertindak sebagai
panggung jawab laboratorium adalah kepala laboratorium yang dapat diangkat oleh
Ketua Jurusan atau Pimpinan Perguruan Tinggi, tergantung status
laboratoriumnya, apakah laboratorium pusat atau laboratorium Jurusan. Di
Sekolah Menengah, pengelola laboratorium bertanggung jawab kepada Kepala
Sekolah. Selain pengelola laboratorium biasanya terdapat pula seorang teknisi
laboratorium. Tugas teknisi laboratorium membantu penyiapan bahan-bahan /
alatalat praktikum, pengecekan secara
periodic, pemeliharaan dan penyimpanan alat dan bahan. Agar kinerja pengelola
laboratorium berjalan baik, perlu disusun struktur organisasi laboratorium.
Pada struktur organisasi tersebut, dicantumkan pula para guru mata pelajaran
fisika, kimia dan biologi sebagai penanggung jawab masing-masing alat/bahan.
Tugas penanggung jawab laboratorium selain
mengkoordinir berbagai aspek laboratorium, juga mengatur penjadualan penggunaan
laboratorium. Penjadualan ini dikoordinasikan dengan bagian kurikulum dan
mempertimbangkan usulan-usulan guru. Pada laboratorium dengan peralatan lab
yang rumit atau kompleks, biasanya perlu diangkat seorang operator alat.
Operator alat bertanggung jawab terhadap alat yang dioperasikannnya, oleh
karena itu operator harus selalu siap jika sewaktu-waktu alat tersebut digunakan.
1.5
Anggaran Laboratorium
1.5.1
Pengertian
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan untuk jangka waktu ( periode) tertentu di masa yang akan datang. Oleh karena rencana yang disusun dinyatakan dalam bentuk unit moneter, maka anggaran seringkali disebut juga dengan rencana keuangan. Dalam anggaran, satuan kegiatan dan satuan uang menempati posisi penting dalam arti segala kegiatan akan dikuantifikasikan dalam satuan uang, sehingga dapat diukur pencapaian efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang dilakukan.
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan untuk jangka waktu ( periode) tertentu di masa yang akan datang. Oleh karena rencana yang disusun dinyatakan dalam bentuk unit moneter, maka anggaran seringkali disebut juga dengan rencana keuangan. Dalam anggaran, satuan kegiatan dan satuan uang menempati posisi penting dalam arti segala kegiatan akan dikuantifikasikan dalam satuan uang, sehingga dapat diukur pencapaian efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang dilakukan.
1.5.2
Manfaat
Dengan
penyusunan anggaran usaha-usaha perusahaan akan lebih banyak berhasil apabila
ditunjang oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan yang terarah dan dibantu oleh
perencanaan-perencanaan yang matang. Perusahaan yang berkecenderungan memandang
ke depan, akan selalu memikirkan apa yang mungkin dilakukannya pada masa yang
akan dating. Sehingga dalam pelaksanaannya, perusahaan-perusahaan ini tinggal
berpegangan pada semua rencana yang telah disusun sebelumnya. Di mana,
bagaimana, mengapa, kapan, adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu mereka
kembangkan dalam kegiatan sehari-hari. Apabila pada suatu kesempatan hal ini
ditanyakan kepada seorang General Manager yang sukses, maka sering didapatkan
jawaban bahwa ide-ide untuk kegiatan pada waktu mendatang pada umumnya
didasarkan pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas. Dalam
perusahaan-perusahaan manufatktur ( pabrik) kegiatan akan dilakukan dengan
lebih efisien dan tingkat keuntungan akan lebih besar apabila management
memperhatikan rencana untuk aktivitas-aktivitasnya di masa depan. Karena itu
Heckerts dan Wilson mengatakan bahwa manfaat utama daripada business budgeting
adalah dapat ditentukannya kegiatan-kegiatan yang paling profitable yang akan
dilakukan.
1.5.3
Proses Penyusunan Anggaran
Penyusunan anggaran merupakan proses
pembuatan rencana kerja untuk jangka waktu satu tahun, yang dinyatakan dalam
satuan moneter dan satuan kuantitatif yang lain (Mulyadi, 2001:488). Proses
penyusunan anggaran manajer pusat pertanggungjawaban berperan serta dalam
menyusun usulan anggaran serta mengadakan negosiasi dengan manajer diatasnya
yang memberikan peran kepadanya. Proses penyusunan penganggaran dapat dilakukan
dengan tiga cara yaitu metoda top down (metoda dari atas ke bawah), bottom up
(metoda dari bawah ke atas), dan partisipasi. Proses penyusunan penganggaran
‘top-down’ manajer puncak menyusun anggaran untuk organisasi secara
keseluruhan, termasuk untuk level bawah (Blocher,2000:384). Menurut Shim
(2000:4) “proses penganggaran ’bottom-up’ dimulai dari tingkat dasar atau
tingkat operasional (departemental)”. Sasaran dari tingkat operasional ini
harus konsisten dengan keseluruhan sasaran korporasi. Proses penyusunan
penganggaran yang efektif, biasanya merupakan kombinasi dari pendekatan
penganggaran ’top-down’ dengan pendekatan ‘bottom-up’. Anggaran partisipatif
ialah anggaran yang menyelaraskan tujuan perusahaan dengan tujuan para
karyawannya, serta mempunyai peluang sukses yang lebih untuk keberhasilan
operasi. Proses penganggaran biasanya meliputi pembentukan komite anggaran;
menentukan periode anggaran; spesifikasi pedoman anggaran; penyusunan usulan
anggaran awal/dasar (initial budget); negosiasi anggaran, review, dan
persetujuan, dan revisi anggaran (Blocher,2000:356).
1.6
Administrasi
Laboratorium
Herbert A Simon dalam bukunya Administrative
Behaviour, mendefinisikan administrasi
sebagai kegiatan dari sekelompok manusia yang bekerja sama untuk mencapai
tujuan bersama. Liang Gie dalam bukunya Unsur Unsur Administrasi: Suatu Kumpulan
Karangan, mendefinisikan administrasi
sebagai segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan-pekerjaan induk
dan sumber-sumber kegiatan lainnya yang bermaksud mencapai tujuan apapun dalam
usaha bersama dari sekelompok orang. Leonard D. White menyatakan
bahwa administrasi sebagai
suatu proses yang umum dalam semua usaha-usaha kelompok baik usaha umum atau
pribadi, usaha pemerintah atau swasta, sipil atau militer dalam skala besar
maupun kecil.
Dari definisi diatas dapat disarikan bahwa administrasi adalah rangkaian
kegiatan bersama sekelompok manusia secara sistematis untuk menjalankan roda
suatu usaha atau organisasi yang didasarkan suatu tujuan tertentu yang telah
ditetapkan.
Administrasi Laboratorium tidak hanya suatu proses pendataan
atau pencatatan atau inventarisasi fasilitas dan aktivitas laboratorium, namun
lebih luas lagi yakni administrasi laboratorium merupakan suatu proses bersama
untuk menyelenggarakan kegiatan laboratorium baik berupa pendidikan, penelitian
maupun pengabdian masyarakat secara kelembagaan meliputi perencanaan,
pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, pengawasan untuk mencapai
tujuan pengelolaan laboratorium secara terencana dan sistematis.
Pada dasarnya semua peralatan di laboratorium adalah milik
negara/milik yayasan untuk laboratorium yang bestatus swasta yang dipercakan
untuk dipergunakan dan dikelola sesuai program yang telah dibakukan dalam hal
ini untuk kegiatan proses belajar mengajar. Maka peralatan itu harus
dipertanggung-jawabkan sesuai aturan atau kebijakan yang berlaku diantaranya
ialah bahwa semua peralatan yang masuk ke laboratorium harus dilengkapi dengan
dokumen pendukungnya (ada berita acara serah terima alat, hari/tanggal,
spesifikasi alat/bahan, jumlah).
Agar semua alat dan bahan mudah dideteksi dengan prinsip.
1.
mudah
dilihat
2.
mudah
dijangkau
3.
aman
untuk alat
4.
aman
untuk pemakai
Untuk mencapai keadaan itu maka perlu ada pengadministrasian
di laboratorium yang bertujuan.
a.
Memahami
cara menata dan menyimpan alat/bahan di laboratorium
b.
Memahami
cara mengadministrasikan alat/bahan.
c.
Mengenal
dan mengisi perangkat administrasi
d.
Menerapkan
cara menata, menyimpan dan mengadministrasikan alat/bahan dilaboratorium.
Pengelolaan merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya
secara efectifdan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara
optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya.
Pengelolaan
laboratorium meliputi beberapa aspek yaitu:
1.
Perencanaan
2.
Penataan
3.
Pengadministrasian
4.
pengamanan,
perawatan dan pengawasan.
Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan
penguna fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan, dan bahan) serta aktivitas
yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Dimana
pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik
pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memilki
kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara dan mengusahakan
keselamatan kerja.
Penataan
dan penyimpanan alat dan bahan didasarkan pada :
1. Keadaan laboratorium, yang
ditentukan oleh:
a.
Fasilitas
seperti : ada tidaknya ruang persiapan, ruang penyimpanan.
b.
Keadaan
alat seperti : jenis alat, jenis bahan pembuat alat, seberapa sering alat
tersebut digunakan, termasuk alat mahal atau tidak.
c.
Keadaan
bahan seperti: wujud (padat, cair, gas), sifat bahan (asam/basa) seberapa
bahaya bahan tersebut dan seberapa sering digunakan.
2. Kepentingan pemakai ditentukan oleh:
a.
Kemudahan
di cari atau digapai.
Untuk memudahkan mencari letak
masing–masing alat dan bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan label
pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau laci). Penyimpanan alat
diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak dan laci yang
ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.
b. Keamanan dalam penyimpanan dan
pengambilan.
Alat disimpan supaya aman dari
pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah dibawa dan mahal harganya
seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci. Aman juga berarti tidak
menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga fungsinya berkurang.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat:
1.
bahan dasar pembuat alat (kaca, logam atau
kayu)
2.
bobot
alat
3.
kepekaan
alat terhadapa lingkungan
4.
pengaruh
alat yang lain
5.
kelengkapan
perangkat alat dalam suatu set.
Sedangkan untuk penyimpanan bahan, ada juga hal-hal yang
harus diperhatikan seperti:
1.
Wujud
zat : padat disimpan terpisah dari cair.
2.
Konsentrasi
zat : konsentrasi yang pekat disimpan terpisah dan khusus.
3.
Bahaya
dari zat : zat yang berbahaya tidak disimpan diatas.
4.
Label
: semua wadah yang berisi bahan atau zat kimia harus diberi label.
5.
Kepekaan
zat terhadap cahaya : zat yang peka terhadap cahaya disimpan dalam botol
cokelat.
6.
Kemudahan
menguap: zat yang mudah menguap disimpan ditempat dingin dan sejuk, serta
hindarkan dari cahaya langsung.
7.
Larutan
indikator disimpan dalam botol tetes (botol kecil yang dilengkapi dengan pipet
tetes pada sumbatnya).
Pengadministrasian di laboratorium adalah proses mencatat
atau menginventarisis fasilitas yang ada dan aktivitas yang berlangsung di
laboratorium. Dengan adanya pengadministasian yang tepat, semua fasilitas dan
activitas laboratoriun dapat terorganisir.
A. Nilai postif yang dapat diperoleh
jika ada inventarisasi laboratorium, antara lain :
1.
Memudahkan
penggadaan dan pengecek bahan dan alat.
2.
Meefisiensikan
pengguna budget.
3.
Memperlancar
pelaksanaan praktikum.
4.
Memudahkan
membuat laporan pertanggung-jawaban.
B. Untuk mengetahui tentang keadaan dan
keberadaan alat/bahan maka diperlukan perangkat seperti:
1.
Buku
inventaris.
2.
Buku/kartu
stock alat/bahan.
3.
Buku/kartu
daftar alat rusak/bahan habis.
4.
Buku
daftar usulan penggadaan alat/bahan (apakah dengan cara dibeli sendiri atau
dropping dari pemerintah).
5.
Buku
daftar peminjam alat.
C. Demi untuk memperlancar proses
aktivitas di laboratorium sangat diperlukan:
1.
Program
kerja di laboratorium.
2.
Jadwal
kegiatan laboratorium.
3.
Buku
catatan harian kegiatan laboratorium.
4.
Daftar
alat/bahan sesuai lembar kerja siswa.
Manajemen Laboratorium adalah usaha untuk mengelola
laboratorium berdasarkan konsep manajemen baku. Pengelolaan laboratorium yang
baik tergantung beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Beberapa peralatan laboratorium yang canggih dengan staf yang professional dan
terampil tidak serta merta dapat beroperasi dengan baik. Oleh karena itu
manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisa
1.7. Organisasi Laboratorium
Organisasi Laboratorium adalah susunan personalia
yang mengelola Laboratorium tersebut. Organisasi tersebut ditanggung jawabi
sepenuhnya oleh Kepala Laboratorium. Kepala Laboratorium harus bertanggung jawab
terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap
seluruh peralatan yang ada. Para Asisten yang berada dibawah kepala
Laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan
yang dibebankan
padanya.
Disamping asisten, juga harus ada tenaga teknisi tetap, yang bertugas di
Laboratorium untuk menanggulangi adanya
kerusakan alat-alat Laboratorium.
Pengorganisasian atau
pengelolaan laboratorium dapat diartikan sebagai pelaksanaan dalam
pengadministrasian, perawatan, pengamanan, serta perencanaan untuk pengembangan
secara efektif dan efisien. Sesuai dengan fungsi laboratorium sekolah, sebagai
salah satu fasilitas penunjang proses pembelajaran, maka kedudukan laboratorium
dalam organisasi sekolah berada di bawah koordinasi Wakil Kepala Madrasah
dengan penugasan dari Kepala Madrasah. Salah satu contoh struktur organisasi
laboratorium disajikan pada gambar
Penanggungjawab
laboratorium bertugas menyusun tata tertib laboratorium, program kerja
laboratorium, dan jadwal pelaksanaan kegiatan praktikum; bersama-sama dengan
laboran melakukan inventarisasi dan adminitrasi alat, bahan, dan fasilitas;
bertanggung jawab terhadap keamanan, keselamatan, kebersihan dan keindahan lab;
bertanggung jawab terhadap perawatan sarana dan prasarana; menyusun dan
mengajukan kebutuhan alat dan bahan kepada Kepala Sekolah; serta menciptakan
suasana akademik laboratorium yang nyaman dan kondusif sehingga menjamin
keselamatan kerja di laboratorium. Laboran bertugas memfasilitasi setiap
kegiatan laboratorium yang dilaksanakan sesuai dengan program dan tujuan
penyelenggaraan laboratorium; menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk
kegiatan praktikum; memberikan pelayanan kepada guru dan praktikan selama
kegiatan praktikum berlangsung; melakukan inventarisasi dan adminitrasi alat,
bahan, dan fasilitas; bertanggung jawab terhadap keamanan, keselamatan,
kebersihan dan keindahan lab; serta bertanggung jawab terhadap perawatan sarana
dan prasarana. Agar laboran dapat bekerja secara optimal, maka perlu menguasai
dan memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya di
laboratorium seperti administrasi laboratorium, layanan laboratorium,
pemeliharaan dan perawatan laboratorium, pemeliharaan dan perawatan bahan dan
alat-alat laboratorium, serta tugas-tugas lain yang diberikan oleh penanggung
jawab laboratorium.
1.8
Tata Tertib
Tata Tertib Laboratorium secara umum
yaitu:
1. Menggunakan baju khusus (jas laboratorium) apabila akan
melaksanakan praktikum
2.
Siswa/mahasiswa
wajib menempati tempat yang telah disediakan sesuai dengan kelompok kerjanya
masing-masing
3.
Alat
dan bahan yang digunakan harus sesuai dengan petunjuk praktikum
4.
Tertib
dan hati-hati dalam mengambil, membawa, dan menggunakan alat dan bahan
praktikum
5.
Jika
terjadi kecelakaan, alat pecah atau rusak, agar segera melaporkan kepada guru
pembimbing
6.
Jika
ada alat yang rusak atau hilang akibat kelalaian siswa/mahasiswa, maka siswa
atau kelompok kerjanya harus mengganti dengan alat yang sama
7.
Hanya
zat yang berbentuk cairan yang boleh di buang pada bak cuci, sedangkan yang
berwujud padat harus dibuang ke tempat khusus
8.
Setelah
digunakan, khusus alat bedah harus dibersihkan kemudian dicuci dengan alkohol
atau spirtus
9.
Setelah
praktikum selesai, cuci tangan dengan sabun sampai bersih
10. Setelah praktikum selesai, siswa
harus membersihkan alat, meja, dan ruangan laboratorium sebelum meninggalkan
laboratorium
11. Setelah selesai menggunakan
laboratorium, alat dan bahan serta kunci laboratorium harus diserahkan kepada
petugas laboratorium untuk disimpan kembali pada tempatnya
2 Pelayanan
Laboratorium
Manajemen
Pelayanan Laboratorium adalah bagaimana suatu pelayanan melalui program,
sarana-prasarana, laboran, karyawan, dan inti manajemennya mampu merencanakan,
menciptakan, dan memberikan layanan terbaik bagi pembelajar. Setiap lini harus
tidak lepas dari kontrol inti manajemen, dan dengan demikian diperlukan
kepemimpinan yang berkualitas. Erry Ryana (2000) mengutip perkataan Jendral
H.Norman Schwazlopf yang mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah gabungan antara
strategi dan karakter. Tetapi kalau kita harus memilih salah satu, maka
pilihlah yang kedua. Selanjutnya Erry mengidentifikasi 10 watak yang dikagumi
dari seorang pemimpin, yaitu:
1.
Jujur
(honest)
2.
Kompeten
(competent)
3.
Melihat
ke depan (forward-looking)
4.
Selalu
memicu inspirasi (inspiring)
5.
Pandai,
cerdas (intelligent)
7.
Berwawasan
luas (broad minded)
8.
Berani
mengambil resiko (courageous)
9.
Tidak
basa-basi, langsung pada persoalan (straight forward)
10. Penuh imajinasi (imaginative)
Disamping
kepemimpinan yang berkualitas, diperlukan pula usaha untuk melibatkan seluruh
laboran maupun karyawan untuk menangkap kebutuhan pelanggan, memantau
perubahannya, dan memenuhi kebutuhan tersebut sesuai dengan bidang tugasnya.
Karyawan harus dilatih untuk menggunakan bahasa layanan kualitas dan merasa
memiliki Laboratorium tersebut. Inovasi, pelayanan unggul dan bekerja dengan
kualitas tertinggi harus menjadi prinsip kerja dari seluruh sumber daya manusia
yang terlibat di Laboratorium.
Keputusan manajemen
kualitas berkaitan dengan pelayanan tujuh P, yaitu:
Product, Price, Place, Promotion, Physical Evidence,
Process Design, dan Participants.


1 komentar:
Semoga bermanfaat..
Posting Komentar